Suddenly it occurred to me these last couple of weeks that Indonesian community is so spoiled! I'm saying that because the fact that a lot of people are so lazy, passive, unable to create ideas, blaming each other, etc are all the sign that they are spoiled. And this spoiled character does not belong exclusively to the upper class. This is a character of the nation with only some few exceptions.
Here are some examples:
1. People don't want to wait for bus in the bus stop because they don't want to walk a bit. The bus drivers are spoiling them by picking up people out of the bus stop. Knowing that the bus driver will stop the bus anywhere, these people feel that they are granted the right to stop any bus anywhere so they maintain this habit. The bus driver, looking to get more money the simply serve these customers. And we end up in the chaotic traffic due to uncivilized angkots and buses. Same as crossing the road on the wrong places and littering.
2. Even the middle and low class community feel that it is a disgrace or humiliation to do house works. They choose to work and play regardless of time and let the maid do the houseworks. The problem rise when with a lot of prices going up, they need to re-manage their family income and found out that they cannot afford a maid anymore! Ouch!
3. Parents think they must pass on a lot of fortune to their kids. They worked day and night, leaving no quality time for the children, then bribing them with a lot of things. The children then grew up as yuppies, leading a consumptive and hedonistic lives!
Well just three examples for now...a bit tired and gotta pack my bags for tomorrow's trip. So..I'll leave you for now..guess you know what I'm talking about anyways...
Thursday, May 29, 2008
MaNja!
Sunday, May 18, 2008
Wake up now!
I met my former adviser for my undergraduate thesis this afternoon. It's just great to always be inspired after a discussion with her. There's always something that stimulates and motivates me and sort of remind me to the 'right' path of my mission.
1. I think a good teacher is one who can motivate her students through her ideas and thoughts. She might not need to know everything, but she can encourage much more knowledge to be learned. And I'm lucky to have at least one fabulous teacher in my life.
2. She said many Indonesians must stop feeling insecure. She observed that many people don't want to practice knowledge due to laziness, but when someone else does it, these people will start feeling angry, as if their right were taken. That's silly, right? But it is what most people do based on her observation! And I think that is so true!
So today I am enlightened and happy because I share same concerns with other person, even though it is still concerning.
Friday, May 09, 2008
Catatan Perjalanan di Global Social Venture Competition
Akhirnya semuanya berakhir, walau belum sepenuhnya berakhir. Perjalanan kompetisi mungkin telah berakhir, namun tantangan berikut telah menanti: mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.Bagi saya, semuanya berawal dari undangan dari PMBS untuk menghadiri briefing singkat mengenai suatu kompetisi tingkat Asia Tenggara. Kompetisi itu bernama Global Social Venture Competition (GSVC) babak Asia Tenggara di Thammasat University, Bangkok, Thailand. Saya sudah mendengar mengenai keberhasilan tim Golden Jet dari MME PMBS tahun sebelumnya di MAI SASIN Business Challenge dan tawaran ini terdengar menantang. Saat itu saya tengah mengerjakan business plan untuk kelulusan bersama kelompok BP saya sendiri. Mengerjakan dua business plan tentunya akan berat, namun saya merasa BP GSVC akan menjadi selingan yang baik di tengah-tengah kejenuhan BP sendiri.
Ternyata terdapat empat mahasiswa MMR batch 33 yang dipilih sekolah untuk mengikuti kompetisi ini. Donatus Widiyanto, Jessica Setiawan, Santy Dermawi, dan saya sendiri kemudian tergabung dalam tim BPT (Bio Power Technology) untuk membantu Yoling Muis, alumni MMEM batch 10 untuk mengemas ulang dan memodifikasi BP pembangkit listrik berbasis biomassa yang dihasilkan Yoling dan kelompoknya untuk kelulusan program MM mereka, agar sesuai dengan ketentuan GSVC.
Tim baru ini kemudian harus bekerja dalam jangka waktu singkat untuk menghasilkan executive summary sepanjang 5 halaman untuk kualifikasi awal. Tenggat waktu 1 hingga 2 minggu ternyata menjadi hal rutin dalam proyek BP GSVC ini. Ritme kerja tim BPT luar biasa cepat dan diskusi yang terjadi cukup istimewa, terlebih dengan adanya bimbingan terus menerus dari Pak Deddi dan Pak Hendro tanpa kenal lelah.
Sesuai target, executive summary 5 halaman kami diterima dan kami harus mengumpulkan full business plan sepanjang 30 halaman. Tak terduga, semua berjalan lancar dan kami diundang untuk presentasi di Bangkok. Wow, we are going abroad! Respon para FM sangat antusias, terbukti dengan banyaknya latihan presentasi dan tanya jawab yang mereka jadwalkan untuk kami. Melebihi ekspektasi Pak Sammy, ternyata tim kami berhasil baik di Bangkok. Kami pun baru menyadari kualitas Prasetiya Mulya yang unggul dibanding universitas lain di Asia Tenggara. Keberhasilan kami meraih juara 2 di Bangkok membawa kami ke GSVC tingkat Asia yang diselenggarakan di Hyderabad, india. Kali ini, persiapan kami relatif tergesa-gesa, karena di saat yang sama tiap anggota dari MMR 33 dihadapkan pada sidang komprehensif business plan masing-masing.
Namun sekali lagi, tak terduga, di Asian Round yang diselenggarakan di Indian School of Business, Hyderabad, kami berhasil mengambil hati para juri untuk memenangkan kami. Sebagai pemenang pertama, kami berhak mengikuti Global Round di Haas Business School, UC Berkeley, USA, bersama pemenang kedua dari Taiwan. Kami sangat bersemangat! Tidak pernah dalam imajinasi kami bahwa kompetisi ini akan membawa kami sejauh ini. Prasetiya Mulya membuat pilihan yang tepat untuk mengikuti kompetisi ini, kompetisi yang membawa kami ke tiga negara dalam waktu kurang dari 6 bulan!
Seperti yang telah diketahui, di Berkeley kami akhirnya berhasil meraih juara ke-2. Dua puluh lima menit yang menegangkan akhirnya kami lalui dan setelah itu sebagian besar peserta dan pengamat memberi selamat. Bagi mereka, presentasi kami kuat dan kami tampak menguasai business plan kami. Para juri menganggap business plan kami memperhitungkan banyak aspek yang diperlukan untuk menjalankannya di Indonesia, karena kami memahami situasi kondisi di Indonesia. Semuanya tak terlepas dari jerih payah pembimbing kami, Pak Deddi khususnya, dan para FM pada umumnya, serta para penasihat (Prof. Herri Susanto, Pak Djiteng Marsudi, dan Bu Tri Mumpuni). Business plan ini lebih sering dibahas daripada semua hal lain, so in the end practice makes perfect.
Saat saya menyaksikan presentasi demi presentasi menuju giliran kami di akhir hari, saya melihat bahwa semua peserta memiliki business plan yang baik dan sesuai dengan konteks masing-masing. Namun pembeda dari kelompok satu dengan yang lain adalah passion dan tactfulness yang menjadikan satu presentasi lebih persuasif dari yang lain. Hal itu kemudian menjadi bukti atas ucapan seorang pembicara di GSVC symposium keesokan harinya: "Ada dua hal yang sangat penting, lebih penting daripada business plan itu sendiri. Pertama, presentasi yang mampu menarik para pemodal, meliputi slides yang menarik, kalimat-kalimat yang punchy dan sparks yang tampak di diri presenter. Kedua, keteguhan mental dalam proses mencari pemodal hingga jatuh bangun dalam pelaksanaan bisnis. Business plan sendiri akan cepat usang dan senantiasa dirombak."
Dari pengalaman tiga kali presentasi di tiga forum yang berbeda, saya pribadi merasa mengalami suatu transformasi. Ternyata kami mampu melakukan hal-hal yang kami pikir tak dapat dilakukan. Rasa tanggung jawab untuk melaksanakan bisnis ini tumbuh dalam diri kami setelah kami melalui semua ujian dan pertanyaan dari para juri. Saya rasa Prasetiya Mulya pun mendapati dirinya mampu bersaing di forum internasional, tak kalah dari sekolah-sekolah bisnis terkemuka di dunia.
Proses yang kami lalui memberi kami banyak pelajaran berharga yang tak mungkin kami peroleh di ruang kelas mana pun. Perjalanan ke tiga negara memberi kami wawasan baru yang membuka pikiran kami. Pergaulan dengan berbagai kelompok dan golongan membuat kami lebih percaya diri dan asertif. Saya merasakan manfaat tak ternilai dari keseluruhan perjalanan ini. Semoga hal yang sama akan berlanjut di tahun-tahun berikut dan Prasetiya Mulya dapat mengokohkan posisinya di dunia, memberi banyak manfaat pada mahasiswanya. Maju terus Prasetiya Mulya! (lebih lanjut tentang GSVC dapat dibaca di www.socialvc.net)
After a while..
Hello!!! Miss me? ;-)
Sorry, haven't been writing for a while... I've been so busy and occupied with so many other things. However, I'll write one post now, about my recent trip to the USA for Global Social Venture Competition. We won the 2nd place, you know? Yey!
The trip is in fact a climax for a series of trips, to Thailand and India for the South East Asia and Asia round. You can see the picture I took in Thailand and India in my Flickr account. Just click the icon on your right hand side of the screen, where several images are shuffling.
OK, enjoy the next post, though it's in Indonesian... ^_^