“It is good to have an end to journey towards; but it is the journey that matters in the end.” -Ursula K. LeGuin-
Akhirnya semuanya berakhir, walau belum sepenuhnya berakhir. Perjalanan kompetisi mungkin telah berakhir, namun tantangan berikut telah menanti: mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.Bagi saya, semuanya berawal dari undangan dari PMBS untuk menghadiri briefing singkat mengenai suatu kompetisi tingkat Asia Tenggara. Kompetisi itu bernama Global Social Venture Competition (GSVC) babak Asia Tenggara di Thammasat University, Bangkok, Thailand. Saya sudah mendengar mengenai keberhasilan tim Golden Jet dari MME PMBS tahun sebelumnya di MAI SASIN Business Challenge dan tawaran ini terdengar menantang. Saat itu saya tengah mengerjakan business plan untuk kelulusan bersama kelompok BP saya sendiri. Mengerjakan dua business plan tentunya akan berat, namun saya merasa BP GSVC akan menjadi selingan yang baik di tengah-tengah kejenuhan BP sendiri.
Ternyata terdapat empat mahasiswa MMR batch 33 yang dipilih sekolah untuk mengikuti kompetisi ini. Donatus Widiyanto, Jessica Setiawan, Santy Dermawi, dan saya sendiri kemudian tergabung dalam tim BPT (Bio Power Technology) untuk membantu Yoling Muis, alumni MMEM batch 10 untuk mengemas ulang dan memodifikasi BP pembangkit listrik berbasis biomassa yang dihasilkan Yoling dan kelompoknya untuk kelulusan program MM mereka, agar sesuai dengan ketentuan GSVC.
Tim baru ini kemudian harus bekerja dalam jangka waktu singkat untuk menghasilkan executive summary sepanjang 5 halaman untuk kualifikasi awal. Tenggat waktu 1 hingga 2 minggu ternyata menjadi hal rutin dalam proyek BP GSVC ini. Ritme kerja tim BPT luar biasa cepat dan diskusi yang terjadi cukup istimewa, terlebih dengan adanya bimbingan terus menerus dari Pak Deddi dan Pak Hendro tanpa kenal lelah.
Sesuai target, executive summary 5 halaman kami diterima dan kami harus mengumpulkan full business plan sepanjang 30 halaman. Tak terduga, semua berjalan lancar dan kami diundang untuk presentasi di Bangkok. Wow, we are going abroad! Respon para FM sangat antusias, terbukti dengan banyaknya latihan presentasi dan tanya jawab yang mereka jadwalkan untuk kami. Melebihi ekspektasi Pak Sammy, ternyata tim kami berhasil baik di Bangkok. Kami pun baru menyadari kualitas Prasetiya Mulya yang unggul dibanding universitas lain di Asia Tenggara. Keberhasilan kami meraih juara 2 di Bangkok membawa kami ke GSVC tingkat Asia yang diselenggarakan di Hyderabad, india. Kali ini, persiapan kami relatif tergesa-gesa, karena di saat yang sama tiap anggota dari MMR 33 dihadapkan pada sidang komprehensif business plan masing-masing.
Namun sekali lagi, tak terduga, di Asian Round yang diselenggarakan di Indian School of Business, Hyderabad, kami berhasil mengambil hati para juri untuk memenangkan kami. Sebagai pemenang pertama, kami berhak mengikuti Global Round di Haas Business School, UC Berkeley, USA, bersama pemenang kedua dari Taiwan. Kami sangat bersemangat! Tidak pernah dalam imajinasi kami bahwa kompetisi ini akan membawa kami sejauh ini. Prasetiya Mulya membuat pilihan yang tepat untuk mengikuti kompetisi ini, kompetisi yang membawa kami ke tiga negara dalam waktu kurang dari 6 bulan!
Seperti yang telah diketahui, di Berkeley kami akhirnya berhasil meraih juara ke-2. Dua puluh lima menit yang menegangkan akhirnya kami lalui dan setelah itu sebagian besar peserta dan pengamat memberi selamat. Bagi mereka, presentasi kami kuat dan kami tampak menguasai business plan kami. Para juri menganggap business plan kami memperhitungkan banyak aspek yang diperlukan untuk menjalankannya di Indonesia, karena kami memahami situasi kondisi di Indonesia. Semuanya tak terlepas dari jerih payah pembimbing kami, Pak Deddi khususnya, dan para FM pada umumnya, serta para penasihat (Prof. Herri Susanto, Pak Djiteng Marsudi, dan Bu Tri Mumpuni). Business plan ini lebih sering dibahas daripada semua hal lain, so in the end practice makes perfect.
Saat saya menyaksikan presentasi demi presentasi menuju giliran kami di akhir hari, saya melihat bahwa semua peserta memiliki business plan yang baik dan sesuai dengan konteks masing-masing. Namun pembeda dari kelompok satu dengan yang lain adalah passion dan tactfulness yang menjadikan satu presentasi lebih persuasif dari yang lain. Hal itu kemudian menjadi bukti atas ucapan seorang pembicara di GSVC symposium keesokan harinya: "Ada dua hal yang sangat penting, lebih penting daripada business plan itu sendiri. Pertama, presentasi yang mampu menarik para pemodal, meliputi slides yang menarik, kalimat-kalimat yang punchy dan sparks yang tampak di diri presenter. Kedua, keteguhan mental dalam proses mencari pemodal hingga jatuh bangun dalam pelaksanaan bisnis. Business plan sendiri akan cepat usang dan senantiasa dirombak."
Dari pengalaman tiga kali presentasi di tiga forum yang berbeda, saya pribadi merasa mengalami suatu transformasi. Ternyata kami mampu melakukan hal-hal yang kami pikir tak dapat dilakukan. Rasa tanggung jawab untuk melaksanakan bisnis ini tumbuh dalam diri kami setelah kami melalui semua ujian dan pertanyaan dari para juri. Saya rasa Prasetiya Mulya pun mendapati dirinya mampu bersaing di forum internasional, tak kalah dari sekolah-sekolah bisnis terkemuka di dunia.
Proses yang kami lalui memberi kami banyak pelajaran berharga yang tak mungkin kami peroleh di ruang kelas mana pun. Perjalanan ke tiga negara memberi kami wawasan baru yang membuka pikiran kami. Pergaulan dengan berbagai kelompok dan golongan membuat kami lebih percaya diri dan asertif. Saya merasakan manfaat tak ternilai dari keseluruhan perjalanan ini. Semoga hal yang sama akan berlanjut di tahun-tahun berikut dan Prasetiya Mulya dapat mengokohkan posisinya di dunia, memberi banyak manfaat pada mahasiswanya. Maju terus Prasetiya Mulya! (lebih lanjut tentang GSVC dapat dibaca di www.socialvc.net)
1 comments:
CONGRATS!!! :)
Post a Comment